Asal Usul Jajanan Kebab di Indonesia

kebab

Kebab adalah jajanan yang sudah banyak dikenal oleh masyarakat di Indonesia. Namun, tahukah anda tentang asal-usul dan sejarah munculnya kebab di Indonesia? Walaupun makanan ini sangat dikenal di Indonesia, namun asal makanan ini bukanlah dari Indonesia. Kebab sebenarnya berasal dari Turki.

Kata kebab berasal dari bahasa persia atau Arab yang berarti daging yang digoreng dan bukanlah daging yang dipanggang. Konon, kebab mulai muncul pada abad ke-18 yang dibawa langsung oleh pedagang Turki. Hubungan antar sesama pedagang termasuk dengan pedagang asal Berlin, membawa perubahan dan kreatifitas terhadap makanan kebab ini untuk menyeseuaikan dengan selera masyarakat di sekitar.

Awal mulanya, daging yang digunakan untuk pembuatan kebab dipanggang secara manual, kemudian disajikan dengan paprika, saus, dan dibungkus roti Tortila khas Meksiko. Ketika masuk Jerman, teknik pembuatan kebab mulai berkembang. Pemanggangan dagingnya mulai menggunakan panggangan listrik dan gas, meski isi kebab kurang lebih masih sama, yaitu roti dan sayuran/salad.

Daging yang biasa digunakan dalam pembuatan kebab adalah daging sapi, domba, maupun ayam. Semuanya bisa digunakan sesuai selera pembeli, teman-teman. Setelah semua isi kebab dicampurkan menjadi satu dalam Tortila, kebab akan digulung untuk kemudian dipanggang kembali dalam durasi waktu yang tak terlalu lama, agar kematangannya lebih baik dan lebih terasa enak ketika disantap.

Saingan Berat Burger

Nah, siapa sangka bahwa ternyata masyarakat Berlin, Jerman sangat menyukai kebab, teman-teman! Meski makanan ini tergolong makanan pendatang yang dibawa oleh masyarakat Turki, tetapi di Jerman sendiri kebab dinilai mampu bersaing dengan penjualan burger daging atau hamburger. Padahal, burger telah lebih dulu ada dan dikenal luas di Jerman.

Berkembang Ke Seluruh Dunia Termasuk Indonesia

Kini, kebab telah meluas ke seluruh dunia, termasuk Eropa, Amerika, Jepang, Malaysia, Cina, bahkan di Indonesia! Di Indonesia, kebab dapat ditemui di kedai pinggir jalan maupun di restoran-restoran besar.

Tetapi ketika masuk ke negara lain, tentu pembuatan kebab akan disesuaikan kembali dengan selera masyarakatnya, meski tak berbeda jauh dengan kebab yang asli dari Turki. Misalnya, di Indonesia kebab dinilai berukuran lebih kecil daripada kebab yang asli.